Sekitar 8.3 Juta Siswa Siap Mengikuti Ujian Nasional

Dari kiri ke kanan, Ir. Totok Suprayitno, Ph.D., Kepala Baltbang, Didik Suhardi, Ph.D. Sekretaris Jenderal, Bambang Suryadi Ph.D., Ketua BSNP, Hamid Muhammad, M.Sc., Ph.D., Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Ir. Dadang Sudiyarto, MA., Sekretaris Balitbang, dan perwakilan dari Kemenag pada acara Konferensi Pers Persiapaan UN Tahun 2019 di Gedung A Kemendikbud, Jakarta, Kamis (21/3/2019).

Mulai hari Senin, 25 Maret 2019, Pemerintah kembali akan menyelenggarakan Ujian Nasional (UN). UN untuk SMK/MAK dilaksanakan dari tanggal 25-28 Maret 2019. Dilanjutkan UN untuk SMA/MA pada tanggal 1, 2, 4, dan 8 April 2019. Sedangkan UN SMP/MTs pada tanggal 22-25  April, UN Program Paket C/Ulya pada tanggal 12-16 April, dan UN Program Paket B/Wustha pada tanggal 10-13 Mei 2019. UN tahun 2019 diikuti  8.259.581 siswa dari 103.437 satuan pendidikan di seluruh wilayah NKRI.

“Secara umum, kebijakan UN tahun 2019 tidak jauh berbeda dengan kebijakan UN tahun 2018. Perbedaan pada jadwal pelaksanaan dan peserta UN. Demikian juga pada komposisi soal UN, tidak ada perbedaan yang mendasar”, ucap Muhadjir Effendy Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam acara konferensi pers persiapan UN di Gedung A Kemendikbud, pada hari Kamis, 21 Maret 2019.

Moda utama pelaksanaan UN, tambah Muhadjir, adalah dengan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Platform UNBK ini selain diterapkan dalam ujian nasional juga diterapkan dalam seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), seleksi POLRI dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

“Selain, itu Kemendikbud juga bekerja sama dengan Badan Siber dan Sandi Nasional (BSSN) untuk meningkatkan kualitas dan keamanan sistem UNBK. Jadi secara sistem, UNBK sudah mapan, sehingga tingkat integritasnya bisa kita pertanggungjawabkan”, ucap Muhadjir.

Terkait dengan tingkat kesukaran soal, Totok Suprayitno Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud mengatakan bahwa desain soal UN 2019 tidak ada perubahan distribusi tingkat kesukaran soal. Komposisi soal berdasarkan level kognitif adalah 10-15 persen soal penalaran, 50-60 persen adalah soal aplikasi, dan 25-30 persen adalah soal pengetahuan-pemahaman.

Lebih lanjut Totok mengatakan bahwa soal isian singkat berupa bilangan hanya untuk mata pelajaran matematika jenjang SMA/MA, SMK/MAK, dan Paket C/Ulya. Proporsi soal isian singkat tersebut adalah 4 dari 40 soal  atau sekitar 10 persen.

Kepala Balitbang juga mengatakan sebagai upaya untuk memotret aspek non kognitif siswa, siswa juga akan mengisi angket. Terdapat lima jenis angket siswa. Setiap siswa hanya mengerjakan satu jenis angket. Angket dikerjakan setelah siswa selesai menempuh ujian nasional. Angket tersebut mencakup konstrak well being, konstrak familiarity dan literasi digital, konstrak literasi finansial, kontrask parent support dan teacher support, serta konstrak global awareness.

Sementara itu, Bambang Suryadi Ketua BSNP menyampaikan bahwa peningkatan satuan pendidikan yang melaksanakan UNBK perlu disyukuri dan diapresiasi. “Angka ini menunjukkan panitia pelaksana mulai dari tingkat pusat sampai ke daerah dan satuan pendidikan telah berusaha keras dan berkomitmen untuk melaksanakan UN yang berintegritas”, ucapnya.

Namun tantangan berikutnya, tambah Bambang, adalah  bagaimana  peningkatan bagaimana peningkatan UNBK ini berjalan lurus dengan peningkatan kualitas lulusan yang salah satu indikatornya adalah capaian prestasi yang bagus pada mata pelajaran yang diujikan dalam UN.

“Tren capaian akademik peserta didik kita selama tiga tahun terakhir belum berbanding lurus dengan tren capaian integritas. Artinya, di satu sisi kejujuran dalam pelaksanaan UN sudah berhasil ditingkatkan melalui UNBK, tetapi prestasi akademik belum berjalan lurus dengan tingkat integritas”, ucap Bambang.

Terkait dengan pelaksanaan UN di daerah terdampak bencana alam, Ketua BSNP mengatakan Kemendikbud telah melakukan koordinasi dengan daerah. Waktu pelaksanaan, moda UN dengan UNBK atau UNKP, serta lingkup materi ujian, dijadikan pertimbangan dalam pelaksanaan UN. Intinya, tidak akan ada siswa yang dirugikan karena faktor alam, seperti gempa atau tsunami.

 

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *