Sebanyak 197 Penulis Antusias Ikut Pelatihan Penulisan Buku Teks Pelajaran di Solo

Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Daerah Jawa Tengah bekerja sama dengan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Pelatihan Teknis Penulisan Buku Teks Pelajaran Kurikulum 2013 Jenjang SMP dan SMA di Solo pada hari  Sabtu, 5 Mei 2018. Acara ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Umum Pengurus Pusat IKAPI dan diikuti 197 peserta dari Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat, dan Sumatera Barat.

Nurkholis Ridwan Sekretaris Umum IKAPI dalam sambutannya mengatakan kegiatan pelatihan ini merupakan amanat musyawarah IKAPI, yaitu salah satu tugas IKAPI adalah memfasilitasi para penulis dalam meningkatkan kualitas perbukuan di Indonesia. Kegiatan ini juga merupakan bagian dari ekosistem perbukuan yang dibangun oleh IKAPI.

“IKAPI terus meningkatkan ekosistem perbukuran dengan menjalin kerjasama dengan Pemerintah, penerbit, dan penulis. Hal ini dilakukan sebagai upaya strategis dalam meningkatkan daya baca. Sebab tanpa buku teks pelajaran yang berkualitas, sulit untuk dapat meningkatkan minat baca”, ucap Sekretaris Umum IKAPI tersebut. 

Lebih lanjut Nurkholis mengatakan penulis merupakan mitra strategis IKAPI. Sebagai upaya untuk menghasilkan buku teks pelajaran, maka penulis harus memahami ruh Kurikulum 2013, selain harus memiliki pengetahuan dan kompetensi pada bidang yang akan ditulis. 

Ketua BSNP, Sekretaris Umum IKAPI, Ketua IKAPI Jawa Tengah dan para nara sumber berpose setelah pembukaan. Dari kiri ke kanan, Ariantoni, M. Nurkholis Ridwan Sekretaris Umum IKAPI, Supriyatno Kabid Perbukuan Puskurbuk, Tomy Utomo Putro Ketua IKAPI Jawa Tengah, Bambang Suryadi Ketua BSNP, Suhaini M. Saleh, Regina Niken, Ana Ratna Wulan, Sardiman AM, dan Wawan Suherman. Nara sumber yang tidak nampak dalam gambar M. Syaifuddin dan Kokom Komalasari.

Tomy Utomo Putro Ketua IKAPI Jawa Tengah mengatakan kegiatan ini diikuti oleh 197 peserta dari daerah Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat, dan Sumatera Barat. Mereka sangat antusias untuk mengikuti kegiatan  yang didesain dengan pola  bimbingan teknis bedasarkan kelompok mata pelajaran, tidak lagi berdasarkan jenjang pendidikan seperti pada pelatihan tahun lalu.

“Pola pelatihan tahun ini sengaja kami desain berbeda dengan pola pelatihan tahun lalu. Tahun ini kelompok pelatihan dibuat berdasarkan mata pelajaran, tidak berdasarkan jenjang pendidikan”, ucap Tomy seraya menambahkan ada delapan kelompok mata pelajaran yang mencakup Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, IPS, PPKn, PJOK dan Sejarah Indonesia.

Dari delapan kelompok mata pelajaran tersebut, tambah Tomy, dua mata pelajaran yang paling banyak pesertanya adalah Matematika dan Bahasa Indonesia, yaitu 32 dan 30 orang untuk masing-masing kelompok. Sedangkan peserta yang paling sedikit adalah mata pelajaran PPKn dan PJOK dengan peserta 16 orang untuk masing-masing kelompok. Peserta untuk mata pelajaran lain berkisar antara 19 sampai dengan 27 peserta.

Lebih lanjut Tomy menjelaskan dari segi teknis pelaksanaan, pelatihan dibagi menjadi empat sesi. Sesi pertama dilakukan secara panel dengan nara sumber dari Puskurbuk dan BSNP. Sedangkan sesi pelatihan kelompok dilakukan dalam tiga sesi, dengan durasi dua jam untuk setiap sesi dan acara akan berakhir pada pukul 17.00. Di setiap kelompok ada satu nara sumber. Mereka berasal dari Puskurbuk dan perguruan tinggi, yaitu UPI, UNY, Universitas Jember, dan Universitas Muhammadiyah Malang.

Nara sumber kelompok Bahasa Indonesia adalah Ariantoni dan untuk kelompok Bahasa Inggris adalah Suhaini M. Saleh. Nara sumber kelompok Matematika adalah M. Syaifuddin dan kelompok IPS adalah Regina Niken. Nara sumber kelompok IPA adalah Ana Ratna Wulan dan untuk kelompok PPKn adalah Kokom Komalasari dan untuk kelompok PJOK adalah Wawan Suherman. Kelompok kedelan, yaitu Sejarah yang menjadi nara sumber adalah Sardiman AM.

Selain ada pemaparan materi dari nara sumber, juga dilakukan bedah buku untuk mengulas bagaimana penilaian pada aspek materi, bahasa, penyajian, dan kegrafikaan dilakukan. Dengan cara ini, diharapkan setelah mengikuti pelatihan ini penulis bisa menghasilkan buku yang berkualitas untuk diikutsertakan dalam proses penilaian.

Materi kebijakan tentang perbukuan disampaikan Supriyatno Kepala Bidang Perbukuan Puskurbuk. Menurutnya, ada sepuluh pelaku perbukuan, yaitu penulis,penerjemah, penyadur, editor, desainer, ilustrator, pencetak, pengembang buku elektronik, penerbit, dan toko buku.

“Dari sepuluh pelaku perbukuan ini, dalam konteks pelatihan hari ini, peran penerbit, penulis, dan editor sangat penting. Dari goresan pena merekalah buku yang berkualitas disiapkan sebelum dilakukan penilaian”, ucap Supriyatno seraya menambahkan mulai tahun 2017 Puskurbuk telah menerapkan sistem daring (online) untuk pendaftaran buku teks pelajaran yang diikutsertakan dalam penilaian.

Selain itu, Supriyatno juga menyampaikan beberapa isu strategis terkait dengan perbukuan. Diantaranya adalah isu pengawasan buku teks pelajaran di lapangan yang dirasa belum optimal. Isu kertas sebagai bahan baku buku, dimana sekitar enam puluh sampai dengan delapan puluh persen komponen buku ditentukan komponen kertas. Isu yang lain adalah terkait dengan penyusunan buku pendidikan agama.

Bambang Suryadi Ketua BSNP dalam paparannya menjelaskan tentang peran dan fungsi BSNP, keterkaitan antara standar nasional pendidikan dengan kurikulum, buku teks pelajaran, penilaian, dan peran guru. Bambang juga menyampaikan kebijakan penilaian buku teks pelajaran dengan pola inisiatif dari pemerintah dan pola inisiatif dari masyarakat.

Secara teknis, Ketua BSNP menyampaikan beberapa alasan mengapa buku teks pelajaran dinyatakan tidak layak dalam proses penilaian. Materi ini yang lebih menarik dan mendapat perhatian dari para peserta pelatihan.

“Salah satu upaya yang mutlak dilakukan penulis untuk menghasilkan buku yang berkualitas adalah belajar dari kegagalan dan kesalahan. Oleh karena itu, dalam forum ini, kami sampaikan beberapa alasan mengapa buku teks pelajaran dinyatakan tidak layak pada setiap tahap penilaian, mulai dari prapenilaian, penilaian tahap pertama, penilaian tahap kedua, sampai ke tahap reviu”, ucap Ketua BSNP.

Mengapa buku teks pelajaran dinyatakan tidak layak? Menurut Ketua BSNP banyak alasan yang membuat sebuah buku teks pelajaran dinyatakan tidak layak. Secara umum, buku yang diusulkan masih lemah dalam menerapkan paradigma Kurikulum 2013.

”Buku tidak sesuai dengan paradigma K-13 dalam penyajiannya. Diduga penerbit tidak melibatkan editor yang memahami ruh (paradigma)  K-13. Selain itu, buku tidak sesuai dengan pendekatan kurikulum 2013, misalnya pendekatan yang berbasis aktivitas, pendekatan ilmiah, dan penilaian yang mengarah kepada penalaran atau Higher Order Thinking Skills (HOTS)”, ucap Bambang seraya menambahkan masih ditemukan adanya unsur plagiasi.

Sebab lain, tambah Bambang  adalah buku siswa bagus, tetapi buku guru tidak bagus. Buku siswa ditulis oleh pakar yang sangat ahli dalam bidangnya, tetapi buku guru tidak disiapkan dengan baik. Sementara kebijakan BSNP adalah untuk bisa dinyatakan layak, kedua buku baik buku siswa maupun buku guru harus dinyatakan layak.

Dari aspek penyajian, buku yang tidak layak disebabkan belum berbasis aktivitas dan penemuan, sajian contoh-contoh tidak berkesinambungan, penilaian terlalu umum, penjelasan tidak jelas, sajian tidak tuntut, dan tidak ada komunikasi interaktif antara penulis dengan siswa. (BS)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *