Kepala Balitbang Apresiasi Rancangan SKL SMK

Kompetensi Lulusan Menjadi Barometer Kualitas Pendidikan

 

Bahrul Hayat, Ketua Tim Ahli memberikan penjelasan rumusan SKL kepada para responden dalam acara Uji Publik Rancangan SKL SMK/MAK, tanggal 20-21 Oktober 2017 di Jakarta

Totok Suprayitno Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pendidikan dan Kebudayan memberikan apresiasi terhadap rancangan revisi Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk pendidikan menengah kejuruan. Hal tersebut disampaikan Kepala Balitbang pada saat menyampaikan arahan dalam acara uji publik rancangan SKL SMK/MAK di Jakarta pada hari Jumat-Sabtu (20-21/10/2017).

“Rumusan SKL yang ada ini sudah tepat dan lebih mudah dipahami dibandingkan dengan rumusan SKL sebelum ini. Dengan adanya SKL SMK/MAK yang baru ini diharapkan kompetensi lulusan SMK/MAK dapat memenuhi tuntutan dunia usaha dan industri”, ucap Totok di hadapan para tim ahli dan penelaah dari kalangan akademisi, praktisi, pembuat kebijakan, dan pemangku kepentingan pendidikan.

Lebih lanjut Totok mengingatkan bahwa perkembangan pendidikan menengah kejuruan tidak cukup dilihat dari segi kuantitas, yaitu banyaknya jumlah peserta didik atau sekolah yang didirikan, tetapi juga memperhatikan kualitas lulusan.

“Sekarang ini tidak saatnya lagi menilai pendidikan dari segi kuantitas siswa atau satuan pendidikan. Kualitas pendidikan lebih tepat dilihat dari kompetensi para lulusan yang dihasilkan dan serapan mereka di dunia kerja. Artinya, kompetensi lulusan menjadi barometer kualitas pendidikan”, ucapnya.

Pada kesempatan tersebut Kepala Balitbang juga memberikan pesan kepada para tim ahli agar dalam merumusan kompetensi tersebut memperhatikan tiga kompetensi utama untuk keberlangsungan hidup (core competence for survival), yang mencakup learning skills, adaptability competence dan job specific skills

“Lulusan SMK/MAK tidak hanya disiapkan secara khusus untuk memenuhi keterampilan bekerja (job specific skills), tetapi juga harus dibekali dengan keterampilan belajar (learning skills) dan kemampuan menyesuaikan diri atau adaptability competence”, ucap Totok.

Menurut Totok, perubahan SKL SMK/MAK ini tidak dimaksudkan untuk mengubah tatanan Kurikululm 2013 yang sedang berlangsung. Namun demikian, perlu dilakukan policy adjustment sehingga ada keselarasan antara standar, kurikulum, proses pembelajaran, dan penilaian pendidikan.

Tantangan Lulusan SMK

Sementara itu, Bambang Suryadi Ketua BSNP dalam sambutannya menyampaikan bahwa pendidikan SMK merupakan terminal program yang lulusannya disiapkan untuk memasuki dunia kerja. Oleh karena itu selama proses pendidikan mereka harus dibekali dengan kompetensi sesuai tuntutan dunia kerja.

Sebaliknya, tambahnya, lulusan SMA disiapkan untuk meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Meskipun pada kenyataannya, justru lulusan SMA yang banyak diserap di dunia kerja dibanding lulusan SMK. Bahkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikeluarkan pada bulan Mei 2017 menunjukkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) untuk usia 15 tahun ke atas berdasarkan latar belakang pendidikan, lulusan SMK menempati posisi tertinggi, yaitu 9.84 persen. Posisi kedua adalah lulusan Diploma I/II/III sebanyak 7.22 persen, lulusan SMA sebanyak 6.95 persen, dan lulusan universitas sebanyak 6.22 persen. Sementara TPT terendah adalah pada tingkat pendidikan SD, yaitu 3.44 persen. Hal ini dikarenakan mereka yang berpendidikan rendah cenderung mau menerima pekerjaan apapun, sementara mereka yang berpendidikan lebih tinggi cenderung memilih pekerjaan yang sesuai. 

“Tantangan lulusan SMK sangat berat dan ini menjadi tanggungjawab kita bersama untuk menyiapkan lulusan yang terampil dan berdaya saing”, ucap Bambang.

Menurut Bambang standar kompetensi lulusan SMK ini selain memiliki implikasi terhadap kurikulum dan buku teks pelajaran, juga memiliki implikasi terhadap uji kompetensi siswa SMK. Oleh karena itu, perlu ada penyelarasan antara materi yang dipelajari para siswa SMK dan materi uji kompetensi yang dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) di bawah koordinasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). (BS)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *