Prof. Robiyanto Tutup Usia, Kami Tak Percaya Begitu Saja

Robiyanto_SusantoProf. Dr. Robiyanto Susanto

Sebagai kerabat dekat dan sebagai anggota keluarga besar BSNP, rasanya sulit bagi kami untuk menerima berita duka Prof. Robiyanto. Lebih-lebih bagi Pak Ucok panggilan akrab Zainal A. Hasibuan yang saat itu mestinya ikut kegiatan SKL, tetapi akhirnya tidak bisa dan digantikan Bu Kiki.

“Ya Allah…apa benar ini. Sulit untuk percaya. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun“, tulis Pak Ucok di Group WA BSNP, merespon ucapan duka cita yang dikirim anggota BSNP.

Meskipun sudah mengirim ucapan bela sungkawa, Pak Ucok masih belum yakin kebenaran berita duka yang begitu mendadak. Maka ia menanyakan kembali dan mengirimkan pesan: “Jam 13.48 Bu Kiki baru posting… Mohon konfirmasi second opinion“.

Bu Kiki yang dalam perjalanan ke bandara demi meyakinkan Pak Ucok segera menjawab, “Bapak dan ibu, mohon dimaafkan kesalahan Pak Robi ya”.

Sebagai anggota keluarga, kami di BSNP mulai berbagi peran. Bu Erika yang selama ini memiliki ikatan emosional sangat kuat dengan Kiki, mewakili BSNP untuk takziyah ke Palembang. Sementara Bu Ning Staf Senior di Sekretariat, dengan kelincahannya, mengurus karangan bunga untuk Prof. Robi dan Pak Mustaghfirin. Saya yang berada di Ciputat, ikut melakukan shalat jenazah di Masjid Baitut Thalibin Kemdikbud.

Prof. Robi  dan Pak Mustaghfirin berpulang ke rahmatullah pada hari yang sama, yaitu Sabtu, 9/9/2017. Prof Robi wafat dalam usia 56 tahun (1961-2017), tanpa ada firasat apa-apa, sedangkan Pak Mustaghfirin dalam usia 59 tahun, setelah melalui tindakan medis selama lima hari.

Pak Ucok memiliki kenangan dan catatan khusus tentang Prof. Robiyanto.

“Almarhum Robi sahabat saya, kami satu angkatan di IPB, yaitu angkatan 16 (1979). Setelah kuliah matrikulasi selama 3 bulan, saya izin ke Amerika setahun untuk ikut AFS, sehingga kembali tahun 1980 bergabung dengan angkatan 17, yaitu angkatan Bu Erika. Saya dan Robi melanjutkan kuliah pascasarjana di Amerika di tahun yang sama”.

“Terus terang saya mengenal Robi terlebih dahulu daripada Bu Kiki. Sampai pada suatu saat di sekitar pertengahan tahun 2000, saya dan Bu Kiki sama-sama mereview suatu PTS di Medan. Walaupun saya dan Robi jarang berkomunikasi (terakhir tahun lalu ketika anak kami sama-sama diwisuda di UI), tetapi secara bathin kami terus kontak, terutama dalam kemajuan karir kami. Robi ahli lahan gambut dan saya dari Statistik lompat ke komputer. Selamat jalan Robi”.

Kisah ini merupakan pesan penting bagi kita semua. Kafa bil mauti wa’idhah. Cukup kematian itu menjadi nasehat. Demikian arti sebuah Hadist Rasulullah.

Pesan yang terpenting adalah dengan mempersiapkan diri, kapan saja dan dimana saja. Sebab kematian bisa datang pada saat sehat atau sakit, saat muda atau tua, saat kaya atau miskin, saat lapang atau sempit, dan saat di tempat terhormat yang penuh rahmat atau tempat kurang terhormat yang penuh maksiat.

Pesan kedua, kematian itu semakin menguatkan keyakinan kita akan kekuasaan dan kebesaran Allah. Sebab selain kita tidak tahu kapan ajal akan datang, kita juga tidak bisa menolaknya.

Sebagai kerabat dan anggota keluarga, kami hanya bisa berdoa untuk Prof. Robi, Pak Mustaghfirin, dan keluarga yang ditingglkan. Sekali lagi, mari kita kirimlan doa untuk mereka.

Allahummaghfir lahuma, warhamhuma, wa’afihima, wa’fu ‘anhuma. Allahumma la tahrimna ajrahuma wa la taftinna  ba’dahuma, waghfirlana wa lahuma. Alfatihah.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *