Penerapan Soal Model HOTS dalam Ujian Nasional Perlu Diimbangi dengan Peningkatan Kemampuan Guru dan Siswa

Ujian Nasional (UN) untuk jenjang SMK dan SMA/MA tahun pelajaran 2017/2018 telah dilaksanakan pada tanggal 2-5 April dan 9-12 April 2018. Secara umum, pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) untuk jenjang SMK dan SMA/MA relatif lebih lancar dan tertib dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Jumlah pengaduan yang masuk ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga lebih sedikit. Namun masih ada beberapa kendala teknis, seperti keterbatasan pasokan listrik dan jaringan internet yang pada akhirnya dapat diatasi. Penerapan soal model Higher Order Thinking Skills (HOTS) pada mata pelajaran matematika SMA/MA yang dirasakan terlalu sulit, mendapat banyak respon dari peserta ujian dan menjadi viral di media sosial. Kebijakan penerapan soal model HOTS dimaksudkan untuk melatih anak-anak berpikir kritis, kreatif, dan analitis, namun ada prinsip-prinsip HOTS yang belum sepenuhnya diterapkan dalam menyusun soal ujian. Oleh karena itu penerapan soal model HOTS dalam UN perlu diimbangi dengan peningkatan kemampuan guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. 

Demikian catatan penting dari rapat koordinasi evaluasi pelaksanaan UNBK pendidikan menengah yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan pada hari Jumat, 20 April 2018 di Jakarta. Rapat koordinasi ini dipimpin oleh Wijaya Kusumawardhana Asisten Deputi Pendidikan Mengenah dan Keterampilan Bekerja. Turut hadir dalam acara ini Bambang Suryadi Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Awaludidn Tjalla Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan, wakil dari Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik), Direktorat Pembinaan SMA, SMK, Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK), dan Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Tujuan evaluasi pelaksanaan UNBK ini adalah untuk mengidentifikasi permasalahan dan kendala yang terjadi selama pelaksanaan UNBK dan untuk merespon banyaknya tanggapan masyarakat terhadap pelaksanaan UNBK tersebut, sehingga kita bisa melakukan perbaikan pada pelaksanaan UN di masa depan”, ucap Wijaya Kusumawardhana mengawali sambutannya.

Secara umum, tambah Wijaya, pelaksanaan UNBK tahun ini berjalan lebih lancar dan tertib, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahwa masih ada kendala teknis seperti pemadaman listrik, keterlambatan pengunduhan token, keterbatasan infrastruktur dan jaringan internet, serta server yang tiba-tiba tidak berfungsi, tidak bisa dinafikan. Tapi, alhamdulillah, akhirnya masalah tersebut dapat diatasi. Untuk perbaikan pelaksanaan UNBK ke depan, kita perlu mengidentifikasi masalah dan keluhan masyarakat atas pelaksanaan UNBK 2018.

“Selain permasalahan teknis tersebut, isu yang yang mendapat sorotan masyarakat adalah soal Matematika jenjang SMA/MA yang dirasakan terlalu sulit, sehingga banyak beredar keluhan di media sosial. Demikian juga adanya keluhan soal UN yang tidak sesuai dengan kisi-kisi dan soal uji coba atau try out”, ucap Wijaya sambil menambahkan perlunya penjelasan tentang hal ini kepada masyarakat. 

Sementara itu, Bambang Suryadi Ketua BSNP dalam paparannya mengatakan bahwa telah menjadi kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menerapkan soal yang mendorong peserta didik untuk melakukan penalaran, tidak hanya sekedar pemahaman dan penerapan.

“Asesmen nasional diarahkan kepada model asesmen yang menuntut kemampuan berpikir yang tidak hanya mengingat (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite). Inilah yang disebut dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau higher oder thinking skills (HOTS)”, ucap Bambang seraya menambahkan ada beberapa prinsip HOTS yang belum diterapkan sepenuhnya dalam penyusunan soal UN.

Lebih lanjut Bambang mengatakan prinsip kontekstual dengan kehidupan nyata belum diterapkan sepenuhnya dalam penyusunan soal Matematika. Misalnya, soal terkait dengan jumlah garam NaCl yang ada dalam 1 ton bola salju. Demikian juga tentang soal dadu yang diputar 600 kali atau waktu yang diperlukan oleh paku untuk tenggelam dalam agar-agar.

“Soal-soal tersebut jelas di luar konteks. Negara kita merupakan negara tropis, tidak pernah ada salju. Demikian juga, apa manfaat dari memutar dadu sampai 600 kali”,ucap Bambang.  

Tujuan soal model HOTS dalam asesmen, tambah Ketua BSNP,  adalah untuk mendorong siswa melakukan penalaran tingkat tinggi sehingga tidak terpaku pada satu pola jawaban yang dihasilkan dari proses hapalan, tanpa mengetahui konsep keilmuan. HOTS merupakan salah satu tuntutan keterampilan dalam pembelajaran abad 21, yaitu berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif.

“Anak-anak kita tidak akan berdaya saing jika di sekolah tidak dilatih kecakapan hidup abad 21. Asesmen modal HOTS juga dilakukan untuk mengejar keterbelakangan bangsa Indonesia di tingkat internasional, khususnya yang terkait dengan hasil Program for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan tiga tahun sekali”, ucap Ketua BSNP yang tidak menafikan kenyataan bahwa kemampuan guru-guru dalam menyusun soal model HOTS masih perlu ditingkatkan.

BSNP telah berkoordinasi dengan Balitbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bahwa untuk mendorong berkembangnya soal model HOTS ini, penskoran soal dilakukan dengan mempertimbangkan kompleksitas soal. Soal yang lebih kompleks diberi bobot yang lebih tinggi. Dengan demikian akan ada faktor pembeda antara siswa yang mampu menjawab soal model HOTS dan siswa yang hanya mampu menjawab soal yang mudah atau sedang.

Awaluddin Tjalla Kepala Puskurbuk menyampaikan perlunya dilakukan penyelarasan antara proses pembelajaran dan penilaian dengan mengacu kepada standar nasional pendidikan. Semangat yang ada di dalam Kuriulum 2013 adalah untuk meningkatkan daya nalar siswa, termasuk berpikir kritis dan analitis.

“BSNP yang mengembangkan standar, Puskurbuk yang bertanggungjawab terhadap implementasi kurikulum, dan Puspendik yang bertanggungjawab terhadap penilaian pendidikan, perlu duduk bersama untuk membahas permasalahan pendidikan dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan nasional”, ucap Kepala Puskurbuk seraya menambahkan salah satu hikmah yang dapat kita ambil dari pelaksanaan UN tahun 2018 adalah perlunya refleksi dan evaluasi internal dari beberapa fenomena yang muncul dalam pelaksanaan ujian.   (BS)

Suasana rapat koordinasi evaluasi pelaksanaan Ujian Nasional di Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, yang dipimpin oleh Wijaya Kusumawardhana Asisten Deputi Pendidikan Mengenah dan Keterampilan Bekerja, pada hari Jumat, 20/4/2018

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *