Selamat Datang Bapak, Kami Ingin Maju Bersama

Catatan Kunjungan Kerja Mendikbud ke Sekolah di Manggarai Barat

Selamat datang Bapak
Selamat datang Bapak
Selamat datang kami ucapkan

Selamat datang Bapak
Selamat datang Bapak
Terimalah salam dari kami yang ingin maju bersama-sama

Demikian lirik lagu yang dinyanyikan siswa-siswa SD Inpres Waemata Manggarai Barat untuk menyambut kedatangan Muhadjir Effendy Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bersama rombongan. Di satu sisi, lirik lagu tersebut menggambarkan antusiasme dan semangat para siswa yang siang itu memakai seragam pramuka. Di sisi lain, lirik tersebut juga merupakan curahan hati yang tulus dari para siswa untuk mendapatkan perhatian dan kemajuan dalam bidang pendidikan.

Panasnya cuaca di Labuan Bajo, Manggarai Barat pada Rabu siang (4/4/2018) tidak mengurangi semangat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bersama rombongan untuk melakukan kunjungan kerja ke beberapa sekolah, mulai dari SD sampai SMA dan SMK. Meskipun fokus utama kunjungan kerja kali ini adalah monitoring pelaksanaan Ujian Nasional (UN) SMK yang digelar sejak tanggal 2-5 April 2018, Mendikbud juga mengunjungi SD dan SMA.

Turut mendampingi Mendikbud dalam kunjungan kerja ke Manggarai Barat adalah Maria Geong Wakil Bupati, Rofinus Mbon Sekretaris Daerah, Kepala Dinas Pendidikan, Muhammad Irfan Kepala LPMP NTT dan para pejabat pemerintahan lainnya. Sedangkan dari Kemdikbud yang turut serta adalah Totok Suprayitno Kepala Balitbang, Hamid Muhammad Dirjen Dikdasmen, Bambang Suryadi Ketua BSNP, Bakrun Direktur Pembinaan SMK, Muhammad Abduh Kepala Puspendik, Alfa Staf Khusus Menteri Bidang Monitoring, tim Tim TV Edukasi dan sekretariat Ujian Nasional.

Setelah selesai menyanyikan lagu selamat datang, Ibu Maria A Kusuma Kepala SD Inpres tersebut memberi sambutan singkat. 

“Bapak Menteri yang kami hormati. Kami sangat bersenang hati atas kunjungan Bapak Menteri hari ini. Inilah sekolah kami. Di sini ada 591 siswa dengan 29 guru, 3 orang tenaga kependidikan, dan 16 ruang kelas. Tetapi ruang belajar kami kurang layak. Mohon Bapak Menteri berkenan membantu kami”, seraya mempersilahkan Mendikbud untuk berfoto bersama para siswa sebagai bentuk kedekatan emosional dan untuk memotivasi mereka dalam belajar.

Muhadjir Effendy Mendikbud (memakai kopyah khas Manggarai) didampingi Maria A Kusuma Kepala Sekolah (berbaju putih), berpose bersama siswa SD Inpres Manggarai Barat. Mereka sangat semangat dan antusias dan menyampaikan ‘Salam Literasi’ sebagai bentuk motivasi untuk berprestasi di tengah-tengah keterbatasan yang ada.

Usai memberikan sambutan, Maria A Kusuma mengajak rombongan untuk melihat ruang kelas yang ada. Di SD Inpres ini ada ruang kelas besar, tetapi dinding dan atapnya sudah rusak. Demikian juga, kursi dan meja sudah kurang layak pakai. Bahkan ada dua ruang kelas seperti gerbong kereta api karena lokasinya di lorong antar dua bangunan, dengan panjang 6 meter dan lebar dua meter, diisi 33 siswa. Sangat memprihatinkan. Namun demikian, keceriaan dan antusiasme tidak pernah pudar dari murid-murid SD Inpres tersebut.

Meskipun dalam kondisi serba terbatas, antusiasme para siswa, guru dan masyarakat setempat sangat luar biasa. Di setiap sekolah, rombongan selalu disambut dengan tarian adat dan penyematan atribut khas masyarakat Manggarai. Acara dipimpin oleh ketua adat masyarakat setempat dengan menyematkan kopiyah, selendang, dilanjutkan dengan penyerahan kendi (tempat air dari kayu) dan ayam jantan warna putih.

“Ayam berwarna putih merupakan simbol dari ketulusan hati kami dalam menerima tamu, khususnya Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan beserta rombongan. Ayam jantan berkokok setiap saat, mengandung makna sebuah ajakan untuk bangun dari tidur dan bangkit kembali untuk belajar di kalangan siswa sekolah”, ucap seorang kepala adat ketika menjelaskan filosofi tari adat penyambuat tamu.

Muhadjir Effendy Mendikbud dan Totok Suprayitno Kepala Balitbang dengan disaksikan oleh Maria Geong Wakil Bupati Manggarai Barat, menerima atribut slendang khas Manggarai sebagai bentuk penghormatan dan ucapan selamat datang dari siwi SMKN 1 Manggarai Barat.

Kondisi SMAN 2 Labuan Bajo dengan jumlah siswa 372 anak, tidak jauh berbeda dari kondisi SD Inpres tersebut. Minggu depan, mulai tanggal 9-12 April, SMA ini akan melaksanakan UN yang diikuti oleh 104 siswa. Karena keterbatasn fasilitas, UN masih dilaksanakan dengan moda berbasis kertas dan pensil

Setelah melihat ruang kelas, rombongan diajak melihat ruang guru. “Ini ruang guru, sekaligus sebagai ruang serba guna”, ucap kepala SMAN 1 kepada Pak Menteri dan rombongan.

Penulis ketika mendengar ucapan tersebut sangat antusias untuk mengetahui lebih detail seperti apa kira-kira ruang guru yang juga ruang serba guna tersebut. Namun, setelah memasuki ruangan, apa yang penulis bayangkan berbalik 360 derajat. Di dalam ruang itu ada berbagai macam perabot dan peralatan. Di sudut sebelan kiri dari pintu masuk, ada empat kasur yang digelar di atas lantai. Kemungkinan kasur ini dimanfaatkan untuk istirahat jika ada siswa yang sakit.

Menuju ke sisi lain, ada satu rak yang penuh dengan buku-buku  lawas dan berdebu. Tidak layak dibaca lagi. Di dekat rak buku itu, terdapat kompor minyak tanah, panci dan peralatan masak. Sementara di atas meja dekat jendela, ada lima set komputer ngangkrak yang  tidak bisa difungsikan. Lantainya pun nampak kotor, tidak selayaknya untuk sebuah ruang guru. Singkat cerita, ruang itu bak sebuah gudang untuk barang-barang rongsokan. Barangkali inilah yang menjadikannya sebagai ruang serba guna.

Ketika penulis melakukan klarifikasi kepada kepala sekolah, dengan tenang ia menjelaskan bahwa apa yang ada merupakan kondisi riil. Sekolah tidak melakukan persiapan khusus untuk menyambut kedatangan Menteri dan rombongan, kecuali spanduk ucapan selamat datang yang dipasang di pintu gerbang sekolah.

“Kami ingin menunjukkan kondisi yang sebenarnya. Maka kami tidak melakukan persiapan khusus”, ucap kepala sekolah seraya menambahkan di sekolahnya ada 372 siswa dan 104 siswa yang mengikuti UN tahun ini dengan moda berbasis kertas dan pensil.

Sementara itu, kondisi SMKN 2 Komodo, juga sangat memprihatinkan. Siswa sekolah ini sebanyak 123 orang dan hanya 20 orang yang mengikuti UN tahun ini dengan moda berbasis kertas dan pensil. SMK ini memiliki dua kompetensi keahlian, yaitu Teknik Instalasi Tenaga Listrik dan Teknik Kendaraan Ringan. Namun, sangat miris sekali, sambungan listrik baru masuk ke sekolah tersebut dua bulan yang lalu. Bagaimana program pembelajaran bisa berjalan dengan baik dan kompetensi lulusan bisa dicapai jika sarana dan prasana tidak mendukung kompetensi keahlian yang ada.

Kondisi Ruang Praktik Siswa (RPS) untuk Teknik Kendaraan Ringan juga masih jauh dari standar sarana dan prasarana yang ditetapkan BSNP. Di dalam ruang itu ada tiga buah sepeda motor untuk praktik dan dua mesin gen set serta peralatan sekedarnya saja. Pintu dan jendela tidak terawat, sehingga penuh dengan debu. Dengan fasilitas yang sangat minim dan kurang terawat, sulit bagi siswa untuk dapat melakukan pembelajaran dengan baik.

Selain masalah perawatan dan pemanfaatan fasilitas, Mendikbud juga merasa prihatin dengan kebiasaan coret menyoret di dinding kelas dan fasilitas sekolah lainnya, sepereti meja, kursi dan toilet.

“Tolong dijaga kebersihan sekolah. Jangan dibiarkan anak-anak menyoret-nyoret dinding, meja dan kursi”, pesan Mendikbud kepada kepala sekolah sebelum meninggalkan lokasi. 

Selain berkunjung ke SD Inpres dan SMAN 2, Mendikbud dan rombongan juga memantau di dua SMK yang melaksanakan UNBK, yaitu SMKN 1 dan SMK Stella Maris, satu-satunya sekolah swasta yang sempat dikunjungi Menteri. Kondisi kedua sekolah ini relatif lebih bagus dari sekolah yang lain. SMKN 1 memiliki luas lahan 16 hektar dengan 404 siswa dan 46 ruang kelas.

“Sejak tahun 2017, SMKN 1 telah melaksanakan UNBK. Ada lima ruang yang digunakan ujian dengan tiga sesi dalam sehari. Bahkan SMKN 1 juga telah mendapatkan lisensi sebagai Lembaga Sertifikasi Profesi Level 1 (LSP-1) dari BNSP”, ucap  Stefanus Satu kepala SMKN 1.

Sebagai bentuk perhatian dan kepedulian Menteri kepada kegiatan ekstra kurikuler kesiswaan, Muhadjir Effendy memberikan bantuan kepada OSIS SMAN 2 dan SMK Stella Marris, mewakili sekolah negeri dan swasta. Bantuan uang tunai tersebut diserahkan kepada Ketua OSIS dan disaksikan oleh para siswa yang lain.

Menurut Mendikbud  NTT termasuk salah satu provinsi yang memerlukan tindakan afirmasi untuk percepatan peningkatan akses dan kualitas pendidikan. Dalam pelaksanaannya, sekolah tidak bisa hanya mengandalkan bantuan dari Pemerintah Pusat, tetapi juga perlu ada program afirmasi dari Pemerintah Daerah.

Dari kunjungan kerja ini, dapat disarikan bahwa akses dan kualitas pendidikan nasional belum merata antar wilayah.  Disparitas antar daerah masih terasa sangat jelas antara kondisi di pulau Jawa dengan kondisi di luar pulau Jawa. Salah satu kabupaten yang masih mengalami disparitas tersebut adalah Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Bahkan disparitas antar sekolah di Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat masih terasa kental.  Artinya, pendidikan berbasis standar yang menjadi ruh dari sistem pendidikan nasional, belum ‘membumi’  di wilayah  NKRI.

Siapa yang bertanggungjawab? Pemenuhan  akses dan kualitas pendidikan sebagai implimentasi dari standar nasional pendidiikan menjadi tanggungjawab bersama antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan masyarakat. Kepala Balitbang Kemdikbud, Totok Suprayitno menganalogikan posisi Pemerintah Daerah bagi sekolah ibarat orang tua, sedangkan posisi Pemerintah Pusat ibarat paman. Hal ini karena izin operasional dan pembinaan ada di Pemerintah Daerah. Dengan adanya koordinasi dan partisipasi dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan masyarakat, diharapkan akses dan kualitas pendidikan dapat ditingkatkan. Amin. (BS)

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *