Sebanyak 467 Guru dan Dosen Ikut Pelatihan Penilaian Buku Teks Pelajaran

Jakarta – Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan BSNP menyelenggarakan pelatihan bagi calon penilai buku teks pelajaran dari tanggal 11 sampai 13 Mei 2018 di Jakarta. Acara ini diikuti oleh 467 guru dan dosen dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia. Latihan penilaian dilakukan untuk Buku Teks Pelajaran (BTP) Tematik kelas I SD/MI mencakup 8 tema, kelas IV SD/MI mencakup 9 tema, BTP SMP/MTs dan SMA/MA untuk mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, IPS, PJOK, Sejarah Indonesia, dan PPKn.

Awaluddin Tjalla Kepala Puskurbuk dalam laporannya mengatakan tujuan pelatihan ini adalah untuk menyamakan persepsi tentang kebijakan, mekanisme dan prosedur penilaian BTP di kalangan calon tim penilai, baik guru maupun dosen. Untuk mencapai tujuan tersebut, materi pelatihan dikemas dalam tiga aspek bentuk, yaitu penjelasan tentang kebijakan, mekanisme dan prosedur penilaian, paradigma kurikulum 2013, dan praktik menilai buku teks pelajaran.

Peserta pelatihan, tambah Awaluddin, ada yang pernah terlibat dalam penilaian buku teks pelajaran dan ada juga yang baru. Adapun perguruan tinggi asal peserta pelatihan, diantaranya adalah ITB, UNPAD, UI, UGM, UNAND, UPI, UNJ, UNY, UM, dan beberapa perguruan tinggi lain, baik negeri maupun swasta.

Selama mengikuti pelatihan, peserta didampingi dan dipandu langsung oleh tim pengembang instrumen. Khusus untuk praktik penilaian, peserta dibekali dengan buku teks pelajaran sesuai dengan bidang keahliannya, lembar kerja, dan instrumen.

“Penetapan hasil pelatihan akan dilakukan dalam rapat pleno BSNP. Peserta pelatihan yang dinyatakan lulus akan dilibatkan dalam penilaian buku teks palajaran yang telah diyatakan layak dalam kegiatan prapenilaian”, ucap Kepala Puskurbuk.

Peserta pelatihan penilai buku teks pelajaran menyimak penjelasan tim pengembang instrumen. Melalui pelatihan ini diharapkan dapat diperoleh tim penilai yang kompeten dan kredibel sebagai upaya untuk menghasilkan buku teks pelajaran yang berkualitas.

Ketua BSNP Bambang Suryadi dalam sambutannya mengatakan bahwa salah satu indikator peradaban sebuah bangsa ditandai dengan karya tulis dalam bentuk buku, termasuk buku teks pelajaran yang digunakan di satuan pendidikan. Peran penilai sangat strategis dalam menghasilkan buku yang berkualitas. Oleh karena itu, sebelum dilakukan penilaian, BSNP perlu melakukan pelatihan. Hanya mereka yang lulus pelatihan yang akan dilibatkan dalam proses penilaian buku teks pelajaran.

Salah satu kebijakan BSNP dalam penilaian adalah memberikan umpan balik hasil penilaian kepada penerbit untuk perbaikan. “Sebagai bentuk penerapan prinsip transparansi, hasil penilaian akan dikomunikasikan kepada penerbit, supaya terjadi proses pembelajaran dan perbaikan”, ucap Bambang.

Selain itu, tambah Bambang, mulai tahun 2017, pendaftaran buku yang diikutkan dalam penilaian dilakukan secara daring (online). Hal ini dilakukan untuk mengurangi kontak fisik antar penerbit dan penyelenggara penilaian. Cara pendaftaran secara daring ini dinilai lebih efisien dan efektif dibandingkan cara manual yang selama ini dilakukan.

Sementara itu, Zaki Su’ud koordinator kegiatan penilaian buku teks pelajaran menekankan pentingnya mewujudkan buku yang memenuhi prinsip zero error. Artinya, buku yang dinyatakan layak, harus terbebas dari kesalahan dalam hal isi, bahasa, penyajian, dan kegrafikaan.

Aspek lain yang perlu diperhatikan dalam penilaian adalah kesesuaian buku teks pelajaran dengan paradigma Kurikulum 2013. Diantaranya adalah yang terkait dengan penerapan pendekatan penemuan, inkuiri, berbasis aktivitas, penalaran, dan asesmen autentik. “Sebaik apapun isi buku teks pelajaran, jika tidak memenuhi kriteria Kurikulum 2013, buku tidak bisa dinyatakan layak”, ucap Zaki.

Totok Suprayitno Kepala Balitbang dalam pengarahannya menekankan tentang ekosistem perbukuan nasional. Dengan disahkannya Undang-undang Nomor 3 tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan, maka tuntutan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama, sangat luar biasa karena buku yang dipergunakan di satuan pendidikan harus melalui proses penilaian. Tujuannya adalah untuk memastikan tidak ada kesalahan dari segi isi, bahasa, penyajian, dan kegrafikaan.

Terkait dengan bentuk buku, saat ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, telah mengupayakan selain dalam bentuk cetak, juga dalam bentuk elektronik. Dengan adanya buku elektronik, jika ditemukan kesalahan atau jika diperlukan revisi, maka proses perbaikan bisa dilakukan dengan lebih cepat dan tepat. 

Secara teknis, setelah menerima materi pelatihan, calon penilai melakukan penilaian terhadap BTP.  Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok dan di setiap kelompok didampingi oleh tim pengembang instrumen. Penilaian terhadap calon penilai dilakukan pada dua aspek, yaitu proses dan kinerja. Aspek proses mencakup keaktifan dan keseriusan calon tim penilaian selama mengikuti pelatihan. Aspek kinerja mencakup pemahaman calon penilain terhadap instrumen dan penggunaannya dalam melakukan penilaian BTP. (BS)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *