SPK IPH DAN XIN ZHONG SURABAYA

Ujian Nasional Instrumen Menanamkan Nasionalisme Kepada Peserta Didik

Kunjungan saya ke Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) Intan Permata Hati atau IPH dan SPK Xin Zhong di Surabaya, hari ini, Selasa, 10/5/2016, memberikan aspirasi luar biasa terkait pelaksanaan Ujian Nasional bagi peserta didik WNI pada SPK.

Ujian Nasional merupakan instrumen untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme kepada peserta didik. UN dapat menghilangkan kesenjangan antara sekolah ‘elite’ dan sekolah ‘biasa’. UN juga bentuk pemenuhan hak warga negara Indonesia. Saol UN bagi WNI pada SPK tidak perlu ditulis dalam bahasa Inggris, tetapi cukup ditulis dalam Bahasa Indonesia. Peserta UNBK nampak ceria dan semangat menempuh ujian.

Demikian catatan penting (kesimpulan) yang dapat penulis utarakan setelah berdialog dengan Ibu Yuliani Kepala SMP IPH dan Ibu Amalia Kepala SMP Xin Zhong Surabaya, di tengah-tengah pemantauan UN Berbasis Komputer.

“Di sekolah ini (IPH), penekanan pendidikan kami pada penanaman karakter dan kehidupan sosial. Siswa dari keluarga kaya dan miskin berbaur, tanpa ada diskriminasi”, ucap Yuliani ketika menerima penulis dengan ramah di ruang kerjanya seraya menambahkan UNBK tahun ini dikuti 71 peserta.

Setiap pagi, tambahnya, ada pembinaan rohani selama 15 menit yang dipimpin guru secara bergilir dan setiap Selasa ada ibadah khusus. Dengan cara seperti ini, kami ingin membentuk karakter kepada peserta didik, termasuk sikap jujur dalam mengikuti UN.

Ketika ditanya apakah soal UN bagi WNI pada SPK perlu ditulis dalam bahasa Inggris, secara pelan tapi tegas, Yuliani yang baru dua tahun memimpin SPK IPH menjawab ‘tidak perlu’.

“Soal UN tidak perlu ditulis dalam Bahasa Inggris, tetapi cukup ditulis dengan Bahasa Indonesia. Ini sebagai instrumen bagi anak-anak menguasai bahasa kebangsaan dan mengenal budaya Indonesia”, ucap Yuliani yang sudah 30 berpengalaman mengelola pendidikan.

“Tidak semua alumni SPK melanjutkan ke luar negeri. Jadi penguasan Bahasa Indonesia mutlak dimiliki”, tegasnya.

Hal senada juga diungkapkan Amelia Kepala SMP Xin Zhong yang tahun ini melaksanakan UNBK dan  diikuti 65 peserta.

Menurut mantan Kepala SMP High Scope Jakarta itu, soal UN ditulis dalam bahasa Indonesia tidak ada masalah.

“Tidak ada masalah soal UN ditulis dalam Bahasa Indonesia. Namun diperlukan strategi untuk membuat anak memahami bahasa Indonesia, diantaranya dengan memberikan istilah-istilah dalam Bahasa Indonesia untuk mata pelajaran Sains dan Matematika”, ucap Amelia.

Terkait prosedur pelaporan hasil penilaian oleh guru dan sekolah, Amelia mengusulkan supaya ada prosedur yang sederhana dan user friendly yang disesuaikan dengan karakteristik SPK.

Selama ini pelaporan hasil penilaian ke Dinas Pendidikan Kota dirasa masih rumit dan ‘jlimet’. (BS)

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *