KULIAH UMUM PENDIDIKAN SAINS

Professor Bruce Alberts: Belajar Sains, Kenapa Takut?

Generasi masa depan harus menguasai sains dan teknologi. Untuk itu mereka harus memiliki kreativitas, rasionalitas, keterbukaan, dan toleransi sebagai karakteristik pola pikir ilmiah. Sains merupakan keperluan setiap individu dan pola pikir ilmiah menjadi sebuah kebutuhan. Dengan memiliki pola pikir ilmiah, generasi muda kita akan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menyelesaikan masalah ketika mereka bekerja di berbagai sektor.

Demikian pesan penting dari Professor Bruce Alberts Utusan Khusus Amerika Serikat  Bidang Sains untuk Indonesia dan Pakistan dalam acara Kuliah Umum Pendidikan Sains di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Selasa, 29 Maret 2016. Acara ini diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan AIPI, USAID, ACDP Indonesia dan Inovasi. Turut hadir dalam acara ini adalah seluruh anggota BSNP, para pemangku kepentingan bidang pendidikan, diantaranya  guru, pengawas, para pejabat dari LPMP, Dinas Pendidikan, dan Direktorat terkait di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Bagaimana sains seharusnya diajarkan di sekolah?

Menurut Alberts, active learning merupakan cara yang tepat untuk dilakukan dalam menumbuhkan budaya ilmiah di sekolah. Mengajarkan sains bukan sekedar mengajarkan ejaan, menghapal, dan mengingat angka-angka atau fakta.

“Kita tidak ingin anak-anak kita takut pada sians. Kita ingin mengajarkan Sains kepada anak-anak kita dengan cara yang benar, tidak hanya sekedar menghafal ejaan atau formula tertentu”, ucap guru besar bidang Biosel dari University of California, San Francisco tersebut.

Terkait dengan peran guru, Alberts berpandangan pentingnya pemberdayaan guru sebagai aktor pendidikan. Sebab sebaik apapun muatan sebuah kurikulum dan fasilitas pendidikan, jika gurunya tidak kompeten, tujuan pendidikan sulit dicapai.

Dalam konteks inilah, tambahnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memiliki tugas dan tanggungjawab untuk memberdayakan dan memberi penguatan kepada guru dalam pembelajaran sains.  Melalui pemberdayaan guru akan terjadi proses perbaikan yang berkelanjutan dan sikap percaya diri (self confidence) dalam menjadikan sains sebagai budaya ilmiah di sekolah.

Sementara itu Totok Supriyatno Kepala Balitbang dalam kapasitasnya sebagai ketua pelaksana menyampaikan bahwa melalui seminar ini diharapkan dapat menginspirasi para pelaku pendidikan terkait dengan implementasi Kurikulum 2013.

“Salah satu ciri K-13 adalah pendekatan saintifik. Oleh karena itu momentun pelaksanaan seminar ini sangat relevan dan tepat dengan semangat K-13”, ucap Totok yang pagi itu memakai pakaian adat khas Ponorogo. Dalam konteks sistem pendidikan nasional, tambah Totok, keberadaan standar pendidikan sains di sekolah menjadi penting untuk dijadikan acuan bagi guru-guru dalam menerapkan kurikulum.

Prof Sangkot Marzuki Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI)  dalam sambutannya mengatakan saat ini AIPI tengah berusaha untuk meningkatkan ekosistem sains dan teknologi di Indonesia.

“Inti scientific culture of excellence   adalah menjadikan sains sebagai pola pikir bangsa”, ucapnya seraya menambahkan sains merupakan awal dari sebuah inovasi.

ANIES BASWEDAN:  Mari Kita Tumbuhkan Tradisi Ilmiah

Ilmu pengetahuan menjadi kunci dalam menentukan arah perjalanan sebuah bangsa dan institusi lainnya. Untuk menyiapka anak-anak menjadi saintis diperlukan guru dan sumber belajar. Lebih penting lagi, sains sebagai character building. Artinya, belajar sains bukan hanya sekedar sebagai pengetahuan tetapi sebagai pembentukan karakter bangsa.

Demikian catatan penting dari kuliah umum tentang pendidikan sains yang dilaksanakan Balitbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan AIPI, USAID, ACDP Indonesia dan Inovasi, pada hari Selasa (29/3/16) di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pembicara utama dalam acara ini adalah Dr. Bruce Alberts  Utusan Khusus Amerika Serikat Bidang Sains untuk Indonesia dan Pakistan.

Sementara itu, Anies Baswedan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam sambutannya menekankan pentingnya ilmu pengetahuan sebagai kekuatan penentu masa depan bangsa. Ilmu pengetahuan menjadi kunci dalam menentukan arah perjalanan sebuah bangsa dan institusi lainnya.

“Sains tidak hanya sebagai hulu inovasi, tetapi juga sebagai kebutuhan dalam kehidupan. Karakter dan semangat dalam sains itu ibarat “ramai-ramai mencari barang hilang. Begitu ketemu semua merasa senang”, ucap mantan Rektor Paramadina tersebut.

Berpikir Ilmiah

Menurut Anies Kebiasaan berpikir ilmiah memiliki dampak bukan hanya untuk meraih kebahagiaan tetap juga mencapai kesejahteraan dan keadilan.  Pendidikan sains harus mampu menumbuhkan pola pikir kritis dan inovatif yang tidak hanya diukur melalui kejuaraan olimpiade sains.

“Pendidikan sains bukan hanya membangun scientific knowledge tapi juga membangun scientific process and procedure“, ucap Anies.

Anies juga berharap generasi muda untuk memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, inovatif, dan kolaboratif untuk menyelesaikan permasalahan pendidikan bangsa. Pendidikan tidak pernah lepas dari permasalahan dan tantangan. Sebab ketika sebuah permasalahan dan tantangan diatasi, muncul permasalahan dan tantangan lain. Salah satu permasalahan yang sedang kita atasi adalah melakukan transformasi kurikulum, termasuk pelatihan bagi para instruktur nasional dan guru-guru.

“Membuat satu sekolah hebat itu sangat memingkinkan. Tetapi membuat semua sekolah hebat masih misterius”, ucapnya seraya menceritakan pengalamannya ketika melakukan  kunjungan ke kelas inspirasi di sebuah sekolah di Jakarta.

Lebih lanjut Anies melontarkan pertanyaan kritis, “Bisakah teknologi menggantikan guru”?

Jika pertanyaan ini ditujukan kepada para guru, tambah Anies, pasti mereka akan menjawab “Tidak bisa”. Nah, justru pertanyaannya yang perlu dibah, “Guru seperti apa yang bisa digantikan dengan teknologi dan guru seperti apa yang tidak bisa digantikan dengan teknologi”?

“Guru yang memiliki jiwa pendidik, pola pikir kreatif dan kritis, tidak bisa digantikan dengan eknologi. Hanya guru yang tergantung kepada paparan power point dan laptop yang bisa digantikan dengan teknologi”, ucap Anies mengakhiri sambutannya. (BS)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *