SERBA SERBI PELAKSANAAN UJIAN NASIONAL PROGRAM PAKET C TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Jakarta–Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terus berupaya melakukan perbaikan Pendidikan Kesetaraan, baik untuk mutu maupun dalam pelaksanaan pada saat Ujian Nasional Program Paket, yaitu pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan setara SMP/MTs/SMPTK, SMA/MA/SMAK/SMTK, dan SMK/MAK mencakup Program Paket B/Wustha dan Program Paket C.

Para peserta UN Program Paket adalah siswa yang terdaftar pada PKBM, SKB, Pondok Pesantren penyelenggara program Wustha, atau kelompok belajar sejenis yang memiliki izin dan memiliki laporan hasil belajar lengkap.

Peserta UNPK di luar negeri kebanyakan adalah para tenaga kerja yang tengah bekerja di luar negeri. Khusus untuk para penyumbang devisa ini diberikan dispensasi melaksanakan UN pada hari libur agar tidak mengganggu hari kerja atau menghindari kasus tidak mendapatkan ijin dari majikan tempat bekerja.

Dari hasil pemantauan yang dilakukan oleh anggota BSNP, banyak ditemui hal-hal yang cukup menarik perhatian di lapangan. Hal tersebut nantinya akan menjadi masukan atau pertimbangan dalam menyusun kebijakan dalam rangka memperbaiki pelaksanaan UN ke depannya.

Seperti hasil pemantauan Kiki Yuliati, salah seorang anggota BSNP untuk periode 2014-2018, di Provinsi Lampung. Anggota BSNP yang berasal dari Universitas Sriwijaya Sumatera Selatan ini mendapati salah satu peserta UN Program Paket C membawa seorang puterinya ke dalam ruang ujian. Di dalam POS memang tidak diatur secara khusus untuk kondisi yang demikian. Kiki mengatakan, “Bagaimana kita harus bikin POS nya? Susah kan? Ibu ini bilang “tak ada yang bisa jaga anaknya sementara dia harus UN untuk pekerjaannya agar bs menghidupi anak” “.

Dan ada pula seorang Ibu yang membawa balita dan membiarkan si balita tertidur pulas sementara Ibunya mengerjakan soal-soal Ujian Nasional.

Perjuangan dan semangat yang luar biasa, menempuh UN di usia yang rata-rata sudah tidak muda lagi untuk mendapatkan ijazah yang setara dengan SMA untuk memperbaiki pekerjaan mereka, untuk meningkatkan taraf ekonomi keluarga.

Laporan dari Solo, Provinsi Jawa Tengah diberikan oleh Khomsiyah (anggota BSNP), UNPK diikuti oleh Kelompok Belajar, yang pesertanya cukup banyak dengan rentang usia antara 15 s.d. 17 tahun (seperti sekolah formal). Alasan mengikuti pendidikan non formal (Kelompok Belajar) karena biayanya sangat murah dan ada keahlian khusus keperawatan. Ahli akuntan yang berasal dari Universitas Trisakti tersebut menambahkan bahwa di Solo terdapat peserta UNPK dengan kebutuhan khusus, ada 3 (tiga) peserta. Mereka didampingi oleh pendamping dari PKBM dan 1 (satu) orang Pengawas.

Ada yang menarik dari pelaksanaan UN Program Paket C tahun ini bahwa tidak semua kisah peserta UN Program Paket C memiliki sisi “kelam”, karena di sisi lain banyak pula peserta yang berasal dari Home Schoolling dan Kelompok Belajar. Hal ini menunjukkan bahwa UN Program Paket C semakin menarik minat dan diakui oleh masyarakat.

Titi Savitri, seorang anggota BSNP yang berasal dari UGM Yogyakarta melaporkan dari Provinsi Sulawesi Selatan, bahwa pelaksanaan UNPK memang belum tertib atau peraturan lebih longgar dimana seorang peserta dipebolehkan membawa anaknya ke dalam ruang ujian (seperti kejadian di Lampung).

Peserta Ujian Program Paket C di SMP 13 Makasar, tidak dipungut bayaran di PKBM tempat mereka belajar. Karena adanya subsidi dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, dengan adanya kebijakan pendidikan gratis.

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *